Kalender
December 2014
M T W T F S S
« Nov    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
Temukan
Biro AAI on Facebook

Jalan Fii Sabilillah “Mulia Karenanya”

Oleh: Dwi Nur Rahmat

Ingatkah kita dengan salah satusahabat Rasulullah Saw, yaitu Abu Sufyan bin Harits. Beliau adalah saudarasepupu Nabi, yaitu putra dari pamannya, Harits bin Abdul Muthalib. Sekaligussaudara sepersusuan Nabi karena selama beberapa hari disusui oleh ibu susuNabi, Halimah as-Sa’diyah.
Kitaketahui bersama, semenjak risalah diterima oleh Rasulullah saw, beliau sudahmenentang dakwah Rasulullah saw. Bahu-membahu bersama kaum kafir Quraisy dansekutu-kutunya, menggubah syair-syair untuk menghina Rasulullah Saw. Beliaujuga tidak pernah absen dalam peperangan melawan kaum muslimin. Bahkan ia yangmemimpin pasukan kafir Quraisy dikesempatan perang Uhud dan Khandaq.
Tapisiapa sangka, bahwa Allah menghendaki memuliakannya, Abu Sufyan bin Harits,orang yang telah memusuhi Rasululllah Saw dan Dakwah Islam semenjak berada diMekkah. Allah memuliakannya dengan cahaya Islam. Paska fat’hu Mekkah, Ia sibukkan dirinya dengan beribadah dan berdakwah fi sabilillah. Untuk mengejarketertinggalannya.
AbuSufyan bin Harits, orang yang memusuhi dakwah islam ketika masa-masa di Mekkah.Menentangnya dengan keras, dengan kesombongan ala orang jahiliyah pada saatitu. Tapi Allah memuliakannya dengan cahaya islam. Tidak hanya satu kali. Allahberkehendak memuliakannya untuk kedua kalinya, dengan dakwah fi sabilillah.
Begitulahdakwah. Semua yang mula-mulanya adalah hina, tapi menjadi mulia karena fi sabilillah. Seperti halnya anjing.Hewan yang satu ini, haram dalam sudut pandnang islam. Memeliharanya didalamrumah, dagingnya, air liurnya termasuk najis besar. Tapi anjing pun bisa mulia,ketika diikutkan dalam perjuangan fisabilillah.
Makaseharusnya kita berbondong-bondang masuk ke dalam jalan dakwah fi sabilillah. Bukan justru menolak ataubahkan menentangnya. Karena amala inilah, umat ini nanti di akhirat menjadiyang pertama dalam menginjakkan kakinya di jannah-Nya.Sebab berdakwah fi sabilillah adalahamalannya para nabi dan rasul, jalan juangnya para kekasih Allah.
Kesempatanini terbuka kawan, untuk kamu mahasiswa muslim UNS angkatan 2014. Biro AAI UNSmemperpanjang masa Open Recruitmen pengurusbaru hingga tanggal 15 Desember 2014. Kawan-kawan sudah melihat kan, betapabesar potensi yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan dalam AAI. Ayo gabungbersama Biro AAI UNS, untuk menjadi wadah untuk kita untuk mengamalkan amalanpara nabi dan rasul. #YukGabungBiroAAIUNS

Fanatisme Kelompok

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Mari sejenak kita renungi sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

“Tiga perkara yang membinasakan: hawa nafsu yang dituruti, sukh yang ditaati & kebanggaan seseorang terhadap dirinya (‘ujub).” (HR. Thabrani).

’Ujub itu membuat orang merasa dirinya sudah baik dan bahkan paling baik. Ia sulit menerima jika ada orang yang lebih baik dari dirinya. Jika ’ujub bersifat kolektif, akan berwujud membangga-banggakan kelompok dan orang-orangnya. Sulit mendengar nasehat, meski yang paling tulus, jika bukan dari orang-orang yang satu kelompok dengannya.

Bentuk kelompok dapat beragam. Boleh jadi kelompok diskusi, kelompok profesi, kelompok yang terkait etnis, atau pun kelompok keagamaan. Kelompok dapat bersifat formal, dapat informal. Bahkan kelompok itu zahirnya tak berkelompok, tetapi sesungguhnya berkelompok. Apa pun kelompoknya, kebanggaan kolektif yang berwujud membangga-banggakan apa yang ada pada kelompoknya, dapat tumbuh dan mengakar kuat.

Jika tidak terkendali, orang dapat membangga-banggakan kebaikan sekecil apa pun pada kelompok, meremehkan kebaikan apa pun pada orang lain. Yang lebih berat lagi: membanggakan apa yang ada pada kelompoknya dan menganggap baik apa pun yang ada di dalamnya. Di luar: buruk dan rendah. Senantiasa ada alasan untuk memaklumi keburukan dan bahkan kebusukan kelompoknya sehingga tampak sebagai kebaikan, sebagaimana ada saja jalan untuk mengelak dari kebaikan kelompok lain yang berseberangan meskipun jelas-jelas merupakan kebaikan yang kuatnya dasarnya dalam agama.

Inilah yang perlu kita khawatiri. Berbangga-bangga terhadap kelompok seraya merendahkan yang lain, dapat menghalangi hidayah dan kebaikan. Lebih perlu kita khawatiri lagi kalau sampai menjatuhkan pada apa yang diperingatkan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an. Kita merasa bertauhid dan mengimani dengan kuat, padahal kita telah terjatuh pada mempersekutukan Allah Ta’ala (musyrik) bersebab kecintaan yang amat sangat pada kelompok, betapa pun itu kelompok agama. Allah Ta’ala berfirman:

“…Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Alloh yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar-Ruum, 30: 31-32).

Maka, kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan agar dihindarkan dari kesyirikan yang kita ketahui maupun kesyirikan tersembunyi. Kita berdo’a:

“Ya, Allah… Sesungguhya kami berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui. Dan kami memohon ampun kepadaMu dari sesuatu yang kami tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad & imam hadits lainnya).

Kita juga memohon kepada Allah Ta’ala petunjuk agar tak terkelabui persepsi diri sendiri. Yang haq tampak haq, yang bathil tampak bathil. Kita berdo’a kepada-Nya:

“Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang bathil itu bathil & berikan rezeki kepada kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Mari sejenak kita renungi do’a ini seraya menelisik kembali apa yang telah melekat pada diri kita: keyakinan maupun pemahaman. Pada saat yang sama, kita perlu berusaha membekali diri dengan ilmu. Tanpa itu, kita dapat tergelincir dari satu syubhat ke syubhat lainnya.

Tentang Iman

Oleh: ustadz Salim A. Fillah “Dalam Dekapan Ukhuwah”

Imam at-Tirmidzi mungkin tak menduga bahwa kalimat ringkas yang beliau gunakan sebagai judul sebuah bab dalam kitab Sunan-nya itu, kini menjadi sebuah mahfuzhot terkenal untuk menggambarkan sifat iman. Kalimatnya berbunyi, “al-iimaanu yaziidu wa yanqush. Iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun. Yaziidu bith thoo’ah, wa yanqushu bil ma’shiyah. Bertambah oleh sebab ketaatan dan berkurang karena kedurhakaan.” Itulah para ulama yang ahli hikmah, merumuskan hal yang rumit menjadi kalimat yang pendek dan sederhana, namun begitu kaya dan penuh makna. Itulah jawami’ul kalim. Sementara kita yang bodoh ini kadang-kadang tergoda untuk merumitkan sesuatu yang sederhana agar disangka ‘alim, agar terlihat pandai, agar terkesan cerdas. Padahal tak satupun dari untaian kalimat kita yang berbusa-busa difahami orang, tak sedikit pun memberikan kefahaman, dan seluruhnya jauh dari makna yang membangkitkan amal sholih. Astaghfirullohal ‘adhim.
Demikianlah, dengan perkataan ringkas Imam at-Tirmidzi itu, yang sebetulnya adalah kesimpulan beliau atas beberapa hadits dan riwayat, kita memahami bahwa iman adalah sesosok rasa yang hidup dalam hati. Ia bisa disuburkan, dikokohkan, dirindangkan. Namun jika lalai jadilah ia kering, layu, bahkan mati. Iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan. ‘Alim dan ahli hikmah yang lain, memberi kita pemahaman tentang ruang cakup iman. “Iman,” kata Imam ath-Thohawi dalam al-‘Aqidah ath-Thohawiyah, “Adalah pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan.” Batasan ini menjadi sebuah penanda kesempurnaan bagi iman.
Kurang satu dari tiga unsurnya, kata beliau, menjadikan sang iman gugur. Seperti munafik; mereka mungkin beriman dalam lisan dan perbuatan. Apa yang terucap dan apa yang diperbuat tak beda dengan mukmin sejati. Akan tetapi sayang, hatinya mengingkari. Ada pula orang-orang yang sungguh pemahamannya mencukupi dan hatinya meyakini. Sayang rasa hasad dan dengki menghalangi lisannya untuk mengakui, membelenggu anggota tubuhnya untuk mengamini. Di antara mereka adalah para tokoh Yahudi di kota Yatsrib. Sejak kedatangan Sang Nabi, kota ini beralih nama menjadi Madinah

PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU SEMAMPUKU

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para Nabi.
Tentang kasih para sahabat.
Tentang mahabbah para sufi.
Tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam.
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Ya Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan khusyuknya solat salah seorang shahabat Nabi-Mu hingga tiada terasa anak panah musuh menujah di kakinya.
Karena itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Ya Rabbii,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,
yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu.
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku.
Yaa Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Maha Rahiim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah,
yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya Din-Mu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.
Allahu Kariim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segalanya.
Izinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.
Allahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.
~KH. A. Musthofa Bisri.~

Memaknai Makna

Berdakwah itu ibarat menanam pohon. Dan kita adalah petaninya. Saat menyemai benih, petani tak pernah tahu benih yang manakah yang akan membalasnya dengan buah-buahan yang segar. Yang ia tahu, ia harus memperlakukan benih-benih itu dengan hati-hati. Perlahan namun pasti. Pohon itu pasti akan tumbuh dengan baik. Itulah keyakinannya sebagai seorang petani.

Waktu berganti, pak tani tak pernah lelah menanti. Ia menunggu dengan sabar dan penuh keyakinan. Benih-benih itu akhirnya tumbuh dengan sempurna. Namun tidak semuanya. Banyak benih yang mati sebelum bertunas, ada yang tumbuh sempurna namun tidak jua berbuah. Sedikit yang tumbuh dan berbuah banyak. Namun, petani itu tak pernah menyesal menanam pohon-pohon itu.

Begitulah, ia ibarat dakwah. Menyemai lalu menuai. Dibina lalu membina. Membina kemudian dibina. Petani itu mengajarkan kita sebuah makna. Menyemai benih. Dakwah, menyemai kebaikan. Adakah bedanya? Tidak. Sungguh. Saat petani menyemai benih-benih, ia menunggu sangat lama sampai benih itu berbuah. Prosesnya lama. Hasilnya? Belum tentu sesuai harapan. Tapi tak masalah.

Saat pohon itu tumbuh sempurna namun tak berbuah, ia tidak menebang pohon tersebut. Ternyata, ia bisa berlindung di bawah rindangnya dedaunan melepas penat. Saat benih itu mati sebelum bertunas, dia tak menyalahkan tanah yang kering, air yang sulit, atau hama yang banyak. Ia akan berkaca diri. Dimana letak kesalahannya sehingga benih tak mau bertumbuh. Sekali lagi, petani itu tak menyesal. Hanya saja, dia melihat dengan cara yang berbeda. Dan disitulah seninya.

Seni dakwah juga sama. Dakwah itu menyemai kebaikan. Kebaikan tak selalu berbuah kebaikan. Kadang kekecewaan, kadang percik permusuhan. Tapi tak masalah kan? Mari kita maknai seperti pak petani memaknai.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya akan melihat (balasan)nya”. (QS 99:7)

Seperti itulah pak tani memaknai pekerjaannya. Sekecil apapun kebaikan yang kita semai buahnya adalah kebaikan pula. Mungkin tidak dengan bentuk yang sama. Bisa jadi, sehat kita, luang kita, kemudahan mengerjakan tugas, lepas dari hutang, adalah buah kebaikan kita. Kita tak pernah tahu.

Begitulah, Allah membalasnya dengan cara yang berbeda. Dia membalas kebaikan kita dengan caraNya sendiri. Pohon tak selalu berbalas buah. Rindangnya pohon adalah tempat nyaman untuk burung bersarang. Itu balasan pohon dalam bentuk berbeda. Sama-sama bermanfaat. Sama-sama kebaikan.

Kebaikan tak selalu berbalas kebaikan. Dan kita tak pernah tahu apa balasannya. Pasti ada hikmah disebaliknya. Yang perlu kita tahu hanya menanam benih kebaikan dimanapun dan bagaimanapun. Berdakwah dimanapun kita berada dalam kondisi apapun.

Saat menanam pohon, saat berdakwah. Jangan pikirkan balasannya. Karena, ia akan mengaburkan kedalaman maknanya. Bayangkan saja, Allah akan menyambutmu di Surga. Bukankah itu saja sudah cukup?

Materi Asisten AAI 2014

Buku Pegangan Asisten [download disini]

Registrasi Mahasiswa Baru UNS 2014

Jika Registrasi Online Gagal, silahkan download formulir ini untuk skrining di fakultas masing-masing.

Download Formulir [BIODATA PESERTA ASISTENSI AGAMA ISLAM TAHUN 2014]

Download Polling [Polling Peserta Asistensi Agama Islam]

Biro AAI UNS Itu Apa Kak?

Oleh: Ramatto Livic*

            Ketika mahasiswa baru muslim tiba di UNS, ada sebuah kegiatan wajib yang mereka ikuti. Itu adalah AAI (Asistensi Agama Islam), kegiatan mentoring keagamaan yang memiliki peran sebagai pendamping mata kuliah Pendidikan Agama islam di UNS. Kasarannya, AAI itu adalah praktikumnya PAI. Karena itu, kegiatan AAI ini memiliki porsi di nilai PAI. Oleh karena itu, AAI merupakan kegiatan wajib bagi setiap mahasiswa baru muslim di UNS.

            Output dari AAI pun sudah banyak terbukti. Banyak mahasiswa yang berprestasi lahir dari sebuah pembinaan di AAI. Namun sangat disayang, kebanyakan civitas akademika UNS masih banyak memandang remeh dan belum mengetahui Biro AAI UNS sebagai lembaga yang mengelola kegiatan AAI. Meskipun, asisten sebagai garda terdepan dalam membina para mahasiswa baru. Tapi, tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya manajerial yang baik dari pengelola. Dalam hal ini Biro AAI UNS.

            Nah, melalui sebuah tulisan ini saya ingin menjelaskan, Apa itu Biro AAI UNS? Biro AAI UNS adalah lembaga yang bertanggung jawab terhadap proses keberjalanan AAI. Mulai dari pengawasan, controlling, pembinaan asisten, kaderisasi calon asisten, dll. Pokoknya segala hal terkait dengan kegiatan AAI, itu menjadi tanggung jawab Biro AAI UNS.

Biro AAI UNS ini juga termasuk lembaga yang bergerak dalam bidang kerohanian. Akan tetapi, meskipun Biro AAI UNS adalah lembaga mahasiswa, tapi bukanlah Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM) kerohanian seperti halnya JN UKMI UNS, IQ UNS, SKI, FUSI dkk. Arah kegiatan Biro AAI UNS lebih mengarah ke akademik, dengan kegiatan utamanya adalah AAI. Biro AAI UNS juga yang menyelenggarakan kegiatan pendamping AAI agar kegiatan AAI menjadi lebih dinamis. Semacam refreshing.

Secara structural, Biro AAI UNS adalah lembaga semi otonom-nya JN UKMI UNS, dibawah bidang pembinaan dan kaderisasi. Garis hubungan kedua lembaga ini tidak bersifat komando,tapi hanya sebatas kordinasi. Kordinasi ini dimaksudkan agar kegiatan kedua lembaga ini tidak saling bertabrakan. Karena keduanya merupakan lemabga kerohanian.

Saya disini akan menjelaskan perbedaan Biro AAI UNS dengan JN UKMI UNS. Karena kebanyakan civitas akademika UNS masih bingung dengan kedunya. Pertama dari segi arahan kerja. Jika JN UKMI focus utamanya adalah syi’ar islam. Sedangkan Biro AAI UNS focus pada pembinaan, khususnya dibidang Pendidikan Agama Islam. Kedua, jalur hubungan dengan birokrat juga berbeda. Jika JN UKMI berada di bawah Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan. Sedangkan Biro AAI UNS ada di bawah Pembantu Rektor I bidang akademik melalui UPT Mata Kuliah Umum (MKU).

Ketiga, keduanya sebagai lembaga ditingkat universitas memiliki garis hubungan dengan yang ada di fakultas. Jika JN UKMI UNS sebagai LDK UNS dengan LDF (Lembaga Dakwah Fakultas) seperti SKI FT, FUSI FP, LKI FISIP dkk itu bersifat kordinasi dan diwadahi dalam Forum Besar (FORBES) LDK. Karena mereka berbeda lembaga. Memiliki ketua umum masing-masing. Sedangkan Biro AAI UNS dengan Biro AAI Fakultas masih satu lembaga. Biro AAI UNS dipimpina oleh Kabiro, sedangkan di fakultas oleh korfak. Sehingga garis hubungannya bersifat komando. Dalam beberapa hal, Biro AAI Fakultas memiliki beberapa hak otonom.

Biro AAI UNS memiliki sebuah visi untuk mewujudkan mahasiswa UNS berkarakter Edukatif dan Religius. Jika diperkuliahan mahasiswa mendapatkan suplemen agar ahli dalam IPTEK bidangnya masing-masing. Maka Biro AAI UNS melalui kegiatan AAI membantu mengimbangi dengan suplemen agar memiliki IMTAQ yang memadai. Seperti slogan Biro AAI UNS, “Bersama dalam Perjuangan” mari kita wujudkan Indonesia yang lebih madani dengan melalui pembinaan AAI di Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Biro AAI UNS membuka pintu gerbong kepada kalian para mahasiswa baru UNS 2014 untuk bergabung dalam gerbong dakwah kami. Tertarik dengan tujuan kami? Mewujudkan Indonesia yang lebih madani? Kami tunggu kontribusi dari kalian untuk bergabung bersama kami. Silahkan hubungi Dwi Nur Rahmat (085642170947) untuk putra dan Putri Dwi Novitasari (085645821760) untuk putri. Silahkan hubungi mereka, jika kalian tertarik bergabung bersama kami.

*Ramatto Livic adalah nama pena dari Dwi Nur Rahmat, Kabiro AAI UNS.

Alur Registrasi Asistensi Agama Islam Mahasiswa Baru UNS 2014



Registrasi Sekarang [klik disini]

Password untuk login: aaioye

Pertanyaan via sosmed:
FB: Biro AAI UNS
Twitter: @BiroAAIUNS
Email: aai.uns.ac.id@gmail.com

Formulir tipe 2 (Hardfile)

Formulir untuk pendaftaran asisten AAI bisa didownload disini: [BIODATA calon asisten]