Kalender
May 2015
M T W T F S S
« Feb    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Temukan
Biro AAI on Facebook

Kiat Membersihkan Hati

Sobat AAI, bagaimana kita dapat memaksimalkan diri dalam melaksanakan rutinitas kita adalah dengan melibatkan hati yang bersih… Terjaga dari hal-hal yang sia-sia yang dapat mengotori hati. Teringat sebuah hadits,

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah, apabila ia baik maka seluruh tubuh akan baik, dan apabila rusak maka seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah ia adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Hal yang menekankan pentingnya memperhatikan hati adalah bahwa Allah menjadikan hati -sesuai hikmah dan ilmuNya- sebagai tempat bagi cahaya dan petunjukNya. Hati adalah tempat ilmu pengetahuan. Melalui hati, manusia dapat mengenal Rabbnya. Dengan hati, manusia mengenal nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Dengan hati, manusia dapat menghayati ayat-ayat syar’iyahNya.Lalu, apa saja kiat-kiat dalam membersihkan hati? Simak tips berikut ini.

a.  Jika ada musibah datang katakanlah, Qodarullah wa maa-syaa-a fa’ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya pasti dilakukan-Nya). Singkatnya adalah meyakini bahwa ”Itu sudah takdir yang ditetapkan Allah SWT”. Dengan meyakini hal itu, hati akan lebih legawa dan ikhlas menerima apapun yang telah digariskannya.

b.  Sebarkan salam kepada saudara-saudaramu.
Dinukilkan pula oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلاَ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ

“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan tidak akan sempurna iman kalian hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian pada sesuatu yang jika kalian lakukan kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54).
Mencintai saudara kita sesama muslim akan berdampak pada hati pula. Hati akan selalu teringat pada Rabb-Nya ketika menempatkan cintanya kepada orang-orang yang senantiasa mengingatkan kita kepada Allah SWT.

c.  Melihat ke bawah dalam urusan dunia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih di atas kalian. Yang demikian ini (melihat ke bawah) akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kalian.” (HR. Muslim).

Dengan kata lain, “syukur” itu penting sobat. Segala nikmat yang ada di diri kita saat ini adalah hal paling dekat dengan kita. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menerima dan mensyukuri segala pemberian Allah SWT ini agar hati kita makin jernih.

 d.  Seringlah mengingat kematian.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [Ali Imran:185].
So, jangan pernah lupa ya kita hidup di dunia hanya sementara. Kumpulkan apa-apa yang berguna sebagai bekal kita, jangan lengah bahkan lalai. Terus belajar meluruskan niat.

e.  Muhasabatun-nafs
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله mengatakan: “Karena seorang hamba akan dihisab atas segala sesuatu, sampai pendengaran, mata dan hatinya sebagai¬mana Allah berfirman:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. al-Isro’ [17]: 36).
Semakin jelas bahwa apa yang kelak kita tuai di akhirat berasal dari apa yang kita lakukan di dunia. Sejauh mana usaha kita untuk menginstropeksi diri tidak berhenti pada saat itu saja. Kita pun harus memperbaiki akhlak dalam keseharian kita. Jangan pernah lelah untuk “Bersemangat dalam Perbaikan”.

Dan yang terakhir, coba renungi ayat berikut.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُو َ ن الَّذِينَ إِ َ ذا ذُكِرَ اللَّهُ وَجَِلتْ قُلُوبُهُمْ وَإِ َ ذا تُلِيَتْ عََليْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا

“Orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifatNya) gemetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menjadikan mereka bertambah iman mereka. (Surah Al-Anfal 8: Ayat 2).

Form Biodata Calon Asisten

Teruntuk para calon asisten, silakan mengunduh dan mengisi biodata berikut untuk kelengkapan administrasi pendaftaran.
BIODATA calon asisten

#YukFUAAI

Aku berfikir sejenak tentang
keberjalanan bulan di setiap tahunnya, dari januari hingga desember dan begitu
kembali lagi hingga tahun bertambah. Bukan hanya tahun, umur pun juga pasti
bertambah, atau bisa dibilang berkurang, paket umur yang diberikan Alloh kepada
kita berkurang.

Ah, rasanya cepat sekali menuntut
ilmu di perguruan tinggi. Rasanya baru kemarin dan kini sudah mau selesai.
Apakah ada kenangan paling indah saat masa-masa kuliah awal? Oh pastinya sangat
beragam. Tapi tahukah yang kuanggap paling indah dan berkesan? Yaitu ketika
kajian melingkar satu kelompok di setiap pekan. Asistensi Agama Islam. Ya,
agenda yang baru kukenal bertepatan dengan sebutanku sebagai mahasiswa. Unik
sekali, berkenalan dengan teman baru dan kakak-kakak baru. Dan itu diwajibkan
dari setahun pertama, di tahun kedua, bukan kampus yang mewajibkan, tapi HATI
ini.

Entahlah, rasanya sayang sekali
ketika kita sudah masuk ke dalam kubangan air yang bisa membuat kita bersih
tapi kita tidak berani masuk lebih dalam lagi. Padahal di dalamnya pasti ada hal-hal
yang bermanfaat, karena pada saat di permukaan saja sudah bisa membersihkan
kotoran luar apalagi semakin ke dalam? Itulah yang dinamakan Follow Up
Asistensi Agama Islam (FU AAI). Tenang saja, FU AAI bukan hanya untuk merangkul
orang-orang yang baik, yang sudah berjilbab syar’i, yang tidak merokok dan
sholat wajib berjamaah lima waktu sehari, yang sudah hafal qur’an atau yang
sudah mempunyai akhlak yang bagus. Tapi, FU AAI sejatinya adalah sarana untuk
kita menjadi muslim yang lebih baik. (Maaf) mahasiswa yang masih merokok dan
sholatnya bolong-bolong, yang jilbabnya belum syar’i atau bahkan yang belum
berjilbab sekalipun berhak menjadi orang-orang yang terdepan dan dengan lantang
mengucapkan “Saya mencintai FU AAI, Saya ingin hidup lebih baik, Saya ingin
mengubah pribadi saya menjadi yang terbaik, Saya ingin banyak belajar ilmu
agama, Saya ingin membuat orang tua bahagia dengan kesholehan saya, dan Saya
berkomitmen untuk itu, AAI akan menjadi pilihan saya dan FU AAI akan menjadi
agenda rutin saya di tiap pekan.”

Maka kawanku semuslim, saudaraku
seiman, eratkanlah pegangan tangan untuk tetap mencari ilmu bersama-sama.
Kesulitan dan rintangan yang ada akan kita selesaikan bersama. Jalanilah,
ikutilah, resapilah, FU AAI yang awalnya kau merasa tidak punya daya apapun,
maka beberapa tahun kemudian ketika kau mengikutinya dengan baik, kau akan
kagum dengan dirimu yang baru. Selamat ber FU AAI dengan ikhlas J

 

Selesai ditulis di saat gerimis.
Pagi hari. Jam 6:52. Di Sebuah Gerbong Kereta

Prameks. Kamis, 11 Desember 2014.
@IstiqomahFebriani.

Jalan Fii Sabilillah “Mulia Karenanya”

Oleh: Dwi Nur Rahmat

Ingatkah kita dengan salah satusahabat Rasulullah Saw, yaitu Abu Sufyan bin Harits. Beliau adalah saudarasepupu Nabi, yaitu putra dari pamannya, Harits bin Abdul Muthalib. Sekaligussaudara sepersusuan Nabi karena selama beberapa hari disusui oleh ibu susuNabi, Halimah as-Sa’diyah.
Kitaketahui bersama, semenjak risalah diterima oleh Rasulullah saw, beliau sudahmenentang dakwah Rasulullah saw. Bahu-membahu bersama kaum kafir Quraisy dansekutu-kutunya, menggubah syair-syair untuk menghina Rasulullah Saw. Beliaujuga tidak pernah absen dalam peperangan melawan kaum muslimin. Bahkan ia yangmemimpin pasukan kafir Quraisy dikesempatan perang Uhud dan Khandaq.
Tapisiapa sangka, bahwa Allah menghendaki memuliakannya, Abu Sufyan bin Harits,orang yang telah memusuhi Rasululllah Saw dan Dakwah Islam semenjak berada diMekkah. Allah memuliakannya dengan cahaya Islam. Paska fat’hu Mekkah, Ia sibukkan dirinya dengan beribadah dan berdakwah fi sabilillah. Untuk mengejarketertinggalannya.
AbuSufyan bin Harits, orang yang memusuhi dakwah islam ketika masa-masa di Mekkah.Menentangnya dengan keras, dengan kesombongan ala orang jahiliyah pada saatitu. Tapi Allah memuliakannya dengan cahaya islam. Tidak hanya satu kali. Allahberkehendak memuliakannya untuk kedua kalinya, dengan dakwah fi sabilillah.
Begitulahdakwah. Semua yang mula-mulanya adalah hina, tapi menjadi mulia karena fi sabilillah. Seperti halnya anjing.Hewan yang satu ini, haram dalam sudut pandnang islam. Memeliharanya didalamrumah, dagingnya, air liurnya termasuk najis besar. Tapi anjing pun bisa mulia,ketika diikutkan dalam perjuangan fisabilillah.
Makaseharusnya kita berbondong-bondang masuk ke dalam jalan dakwah fi sabilillah. Bukan justru menolak ataubahkan menentangnya. Karena amala inilah, umat ini nanti di akhirat menjadiyang pertama dalam menginjakkan kakinya di jannah-Nya.Sebab berdakwah fi sabilillah adalahamalannya para nabi dan rasul, jalan juangnya para kekasih Allah.
Kesempatanini terbuka kawan, untuk kamu mahasiswa muslim UNS angkatan 2014. Biro AAI UNSmemperpanjang masa Open Recruitmen pengurusbaru hingga tanggal 15 Desember 2014. Kawan-kawan sudah melihat kan, betapabesar potensi yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan dalam AAI. Ayo gabungbersama Biro AAI UNS, untuk menjadi wadah untuk kita untuk mengamalkan amalanpara nabi dan rasul. #YukGabungBiroAAIUNS

Fanatisme Kelompok

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Mari sejenak kita renungi sabda Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

“Tiga perkara yang membinasakan: hawa nafsu yang dituruti, sukh yang ditaati & kebanggaan seseorang terhadap dirinya (‘ujub).” (HR. Thabrani).

’Ujub itu membuat orang merasa dirinya sudah baik dan bahkan paling baik. Ia sulit menerima jika ada orang yang lebih baik dari dirinya. Jika ’ujub bersifat kolektif, akan berwujud membangga-banggakan kelompok dan orang-orangnya. Sulit mendengar nasehat, meski yang paling tulus, jika bukan dari orang-orang yang satu kelompok dengannya.

Bentuk kelompok dapat beragam. Boleh jadi kelompok diskusi, kelompok profesi, kelompok yang terkait etnis, atau pun kelompok keagamaan. Kelompok dapat bersifat formal, dapat informal. Bahkan kelompok itu zahirnya tak berkelompok, tetapi sesungguhnya berkelompok. Apa pun kelompoknya, kebanggaan kolektif yang berwujud membangga-banggakan apa yang ada pada kelompoknya, dapat tumbuh dan mengakar kuat.

Jika tidak terkendali, orang dapat membangga-banggakan kebaikan sekecil apa pun pada kelompok, meremehkan kebaikan apa pun pada orang lain. Yang lebih berat lagi: membanggakan apa yang ada pada kelompoknya dan menganggap baik apa pun yang ada di dalamnya. Di luar: buruk dan rendah. Senantiasa ada alasan untuk memaklumi keburukan dan bahkan kebusukan kelompoknya sehingga tampak sebagai kebaikan, sebagaimana ada saja jalan untuk mengelak dari kebaikan kelompok lain yang berseberangan meskipun jelas-jelas merupakan kebaikan yang kuatnya dasarnya dalam agama.

Inilah yang perlu kita khawatiri. Berbangga-bangga terhadap kelompok seraya merendahkan yang lain, dapat menghalangi hidayah dan kebaikan. Lebih perlu kita khawatiri lagi kalau sampai menjatuhkan pada apa yang diperingatkan Allah Ta’ala dalam al-Qur’an. Kita merasa bertauhid dan mengimani dengan kuat, padahal kita telah terjatuh pada mempersekutukan Allah Ta’ala (musyrik) bersebab kecintaan yang amat sangat pada kelompok, betapa pun itu kelompok agama. Allah Ta’ala berfirman:

“…Dan janganlah kamu termasuk orang yang menyekutukan Alloh yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” (QS. Ar-Ruum, 30: 31-32).

Maka, kepada Allah Ta’ala kita meminta pertolongan agar dihindarkan dari kesyirikan yang kita ketahui maupun kesyirikan tersembunyi. Kita berdo’a:

“Ya, Allah… Sesungguhya kami berlindung kepadaMu agar tidak menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui. Dan kami memohon ampun kepadaMu dari sesuatu yang kami tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad & imam hadits lainnya).

Kita juga memohon kepada Allah Ta’ala petunjuk agar tak terkelabui persepsi diri sendiri. Yang haq tampak haq, yang bathil tampak bathil. Kita berdo’a kepada-Nya:

“Ya Allah, tunjukkan kepada kami bahwa yang benar itu benar dan berikanlah rezeki kepada kami kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukkan kepada kami bahwa yang bathil itu bathil & berikan rezeki kepada kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Mari sejenak kita renungi do’a ini seraya menelisik kembali apa yang telah melekat pada diri kita: keyakinan maupun pemahaman. Pada saat yang sama, kita perlu berusaha membekali diri dengan ilmu. Tanpa itu, kita dapat tergelincir dari satu syubhat ke syubhat lainnya.

Tentang Iman

Oleh: ustadz Salim A. Fillah “Dalam Dekapan Ukhuwah”

Imam at-Tirmidzi mungkin tak menduga bahwa kalimat ringkas yang beliau gunakan sebagai judul sebuah bab dalam kitab Sunan-nya itu, kini menjadi sebuah mahfuzhot terkenal untuk menggambarkan sifat iman. Kalimatnya berbunyi, “al-iimaanu yaziidu wa yanqush. Iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun. Yaziidu bith thoo’ah, wa yanqushu bil ma’shiyah. Bertambah oleh sebab ketaatan dan berkurang karena kedurhakaan.” Itulah para ulama yang ahli hikmah, merumuskan hal yang rumit menjadi kalimat yang pendek dan sederhana, namun begitu kaya dan penuh makna. Itulah jawami’ul kalim. Sementara kita yang bodoh ini kadang-kadang tergoda untuk merumitkan sesuatu yang sederhana agar disangka ‘alim, agar terlihat pandai, agar terkesan cerdas. Padahal tak satupun dari untaian kalimat kita yang berbusa-busa difahami orang, tak sedikit pun memberikan kefahaman, dan seluruhnya jauh dari makna yang membangkitkan amal sholih. Astaghfirullohal ‘adhim.
Demikianlah, dengan perkataan ringkas Imam at-Tirmidzi itu, yang sebetulnya adalah kesimpulan beliau atas beberapa hadits dan riwayat, kita memahami bahwa iman adalah sesosok rasa yang hidup dalam hati. Ia bisa disuburkan, dikokohkan, dirindangkan. Namun jika lalai jadilah ia kering, layu, bahkan mati. Iman itu bertambah dan berkurang, naik dan turun. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan. ‘Alim dan ahli hikmah yang lain, memberi kita pemahaman tentang ruang cakup iman. “Iman,” kata Imam ath-Thohawi dalam al-‘Aqidah ath-Thohawiyah, “Adalah pembenaran dalam hati, ikrar dengan lisan, dan amalan dengan seluruh anggota badan.” Batasan ini menjadi sebuah penanda kesempurnaan bagi iman.
Kurang satu dari tiga unsurnya, kata beliau, menjadikan sang iman gugur. Seperti munafik; mereka mungkin beriman dalam lisan dan perbuatan. Apa yang terucap dan apa yang diperbuat tak beda dengan mukmin sejati. Akan tetapi sayang, hatinya mengingkari. Ada pula orang-orang yang sungguh pemahamannya mencukupi dan hatinya meyakini. Sayang rasa hasad dan dengki menghalangi lisannya untuk mengakui, membelenggu anggota tubuhnya untuk mengamini. Di antara mereka adalah para tokoh Yahudi di kota Yatsrib. Sejak kedatangan Sang Nabi, kota ini beralih nama menjadi Madinah

PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU SEMAMPUKU

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu…
Lembar demi lembar kitab kupelajari…
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi…
Tentang cinta para Nabi.
Tentang kasih para sahabat.
Tentang mahabbah para sufi.
Tentang kerinduan para syuhada.
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam.
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan…

Ya Illahi,
Aku tak sanggup mencintai-Mu
Dengan khusyuknya solat salah seorang shahabat Nabi-Mu hingga tiada terasa anak panah musuh menujah di kakinya.
Karena itu Ya Allah,
perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan kadang melayang ke berbagai permasalahan dunia.
Ya Rabbii,
Aku tak dapat beribadah ala para sufi dan rahib,
yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintaimu dalam satu-dua rakaat lailku.
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu.
Dalam desah nafas kepasrahan tidurku.
Yaa Maha Rahmaan,
Aku tak sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku.
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku.
Yaa Maha Rahiim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu semisal Sumayyah,
yang mempersembahkan jiwa demi tegaknya Din-Mu.
Seandai para syuhada, yang menjual dirinya dalam jihadnya bagi-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mempersembahkan sedikit bakti dan pengorbanan untuk dakwah-Mu.
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu dengan sedikit pengajaran bagi tumbuhnya generasi baru.
Allahu Kariim,
Aku tak sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuh mengorbankan pemuda biji matanya.Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segalanya.
Izinkan aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku,
dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta.
Allahu Rahmaanurrahiim, Ilaahi Rabbii
Perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku.
Agar cinta itu mengalun dalam jiwa.
Agar cinta ini mengalir di sepanjang nadiku.
~KH. A. Musthofa Bisri.~

Memaknai Makna

Berdakwah itu ibarat menanam pohon. Dan kita adalah petaninya. Saat menyemai benih, petani tak pernah tahu benih yang manakah yang akan membalasnya dengan buah-buahan yang segar. Yang ia tahu, ia harus memperlakukan benih-benih itu dengan hati-hati. Perlahan namun pasti. Pohon itu pasti akan tumbuh dengan baik. Itulah keyakinannya sebagai seorang petani.

Waktu berganti, pak tani tak pernah lelah menanti. Ia menunggu dengan sabar dan penuh keyakinan. Benih-benih itu akhirnya tumbuh dengan sempurna. Namun tidak semuanya. Banyak benih yang mati sebelum bertunas, ada yang tumbuh sempurna namun tidak jua berbuah. Sedikit yang tumbuh dan berbuah banyak. Namun, petani itu tak pernah menyesal menanam pohon-pohon itu.

Begitulah, ia ibarat dakwah. Menyemai lalu menuai. Dibina lalu membina. Membina kemudian dibina. Petani itu mengajarkan kita sebuah makna. Menyemai benih. Dakwah, menyemai kebaikan. Adakah bedanya? Tidak. Sungguh. Saat petani menyemai benih-benih, ia menunggu sangat lama sampai benih itu berbuah. Prosesnya lama. Hasilnya? Belum tentu sesuai harapan. Tapi tak masalah.

Saat pohon itu tumbuh sempurna namun tak berbuah, ia tidak menebang pohon tersebut. Ternyata, ia bisa berlindung di bawah rindangnya dedaunan melepas penat. Saat benih itu mati sebelum bertunas, dia tak menyalahkan tanah yang kering, air yang sulit, atau hama yang banyak. Ia akan berkaca diri. Dimana letak kesalahannya sehingga benih tak mau bertumbuh. Sekali lagi, petani itu tak menyesal. Hanya saja, dia melihat dengan cara yang berbeda. Dan disitulah seninya.

Seni dakwah juga sama. Dakwah itu menyemai kebaikan. Kebaikan tak selalu berbuah kebaikan. Kadang kekecewaan, kadang percik permusuhan. Tapi tak masalah kan? Mari kita maknai seperti pak petani memaknai.

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya akan melihat (balasan)nya”. (QS 99:7)

Seperti itulah pak tani memaknai pekerjaannya. Sekecil apapun kebaikan yang kita semai buahnya adalah kebaikan pula. Mungkin tidak dengan bentuk yang sama. Bisa jadi, sehat kita, luang kita, kemudahan mengerjakan tugas, lepas dari hutang, adalah buah kebaikan kita. Kita tak pernah tahu.

Begitulah, Allah membalasnya dengan cara yang berbeda. Dia membalas kebaikan kita dengan caraNya sendiri. Pohon tak selalu berbalas buah. Rindangnya pohon adalah tempat nyaman untuk burung bersarang. Itu balasan pohon dalam bentuk berbeda. Sama-sama bermanfaat. Sama-sama kebaikan.

Kebaikan tak selalu berbalas kebaikan. Dan kita tak pernah tahu apa balasannya. Pasti ada hikmah disebaliknya. Yang perlu kita tahu hanya menanam benih kebaikan dimanapun dan bagaimanapun. Berdakwah dimanapun kita berada dalam kondisi apapun.

Saat menanam pohon, saat berdakwah. Jangan pikirkan balasannya. Karena, ia akan mengaburkan kedalaman maknanya. Bayangkan saja, Allah akan menyambutmu di Surga. Bukankah itu saja sudah cukup?

Materi Asisten AAI 2014

Buku Pegangan Asisten [download disini]

Registrasi Mahasiswa Baru UNS 2014

Jika Registrasi Online Gagal, silahkan download formulir ini untuk skrining di fakultas masing-masing.

Download Formulir [BIODATA PESERTA ASISTENSI AGAMA ISLAM TAHUN 2014]

Download Polling [Polling Peserta Asistensi Agama Islam]