aai until die
Sebuah masa, sebuah cerita. Alkisah, di suatu kampus ternama yang in sya Allah diberkahi Allah, kami menyebutnya, Universitas Sebelas Maret. Mari saya ceritakan sebuah cerita fiksi yang selalu saya rindukan. Setiap saya memasuki gerbang kampus ini, saya menyaksikan pemandangan yang bila diumpamakan, sejuknya udara di bumi berhimpun di sana. Langit dan bumi telah bersekutu menampakkan segala keindahan yang tak akan pernah dilihat oleh mata manusia. Mahasiswa-mahasiswa generasi Al-Qur’an, dengan bangga menenteng kitab sucinya. Mereka terlihat sibuk menghafalkan. Sesekali terlihat bercanda, saling membenarkan bacaan rekannya. Dan, saya akan katakan sekali lagi, ini masih cerita fiksi. Apakah cerita itu bakal terjadi? Maka, saya akan memilih jawaban yang sangat membahagiakan. Ya, hal itu akan terjadi. Tapi kita tidak tahu kapan, saya tidak tahu kapan. Hei, kita tidak hidup di negeri dongeng. Apa yang kita inginkan dan andaikan bisa terjadi seketika.
Saya sedang membicarakan masalah generasi penerus kita. Generasi apakah yang akan kita cetak, nantinya? Wahai, kawan, yang sedang menjadi asisten AAI, murabbi, atau mad’u dan segala aktivitas yang berhubungan dengan pembinaan.
Kita boleh jadi bangga kita sedang berada di zaman ketika membentuk halaqoh-halaqoh di masjid tanpa diwarnai teror. Kita boleh nyaman ketika kita memberikan pembinaan kepada mutarabbi atau peserta AAI di pojok-pojok perpustakaan, di sudut-sudut keramaian kampus kita. Kita boleh jadi bahagia. Kita boleh jadi merasakan bahagia.
Ironis, ketika melihat kenyataannya sekarang. Kenapa? Saya kira ada yang lebih banyak tahu daripada saya. Maka, izinkan dengan segala kerendahan hati, kebodohan, dan keinginan untuk masih ingin terus belajar sepanjang hayat mendefinisikan kegelisahan saya mengenai aktivitas membina di kampus kita tercinta.
Pertama, saya gelisah dengan aktivis-aktivis kita. Siapa yang tak kenal dengan kata “aktivis”? Menjadi seorang Presiden Mahasiswa, Menteri, Ketua SKI, dan amanah-amanah lain yang membuat waktu kita banyak tersita karena amanah tersebut. Sebuah kegelisahan timbul ketika ia jarang membina, atau bahkan tidak membina. Siapa yang tidak tahu kesibukan aktivis-aktivis mahasiswa kita? Membela kepentingan rakyat dalam aksi-aksi heroiknya yang kadang ditentang berbagai kalangan. Kadang, saya iri kepada mereka memiliki hati yang kuat ketika akhir-akhir ini pergerakan aktivis mahasiswa kita di ranah siyasi selalu dipojokkan dan disalahkan. Tapi, bukan itu yang menjadi topik permasalahannya. Membina. Dengan banyak alasan, “sibuk”, “agenda ke luar kota”, dan semacamnya membuat mereka tidak melakukan aktivitas pembinaan. Padahal semua sudah paham. Kader dakwah identik dengan kesibukan. Saya kira kita juga sudah paham, berkali-kali materi “amal jama’i” diberikan. Jika aktivitas pembinaan mandeg, bisa dipastikan amal jama’i kita tidak kuat. Saya bingung dengan pikiran aktivis-aktivis kita sekarang.
Tidak rindukah ketika kita melihat binaan kita bisa menajdi seperti kita, bahkan lebih hebat daripada kita? Tidakkah kalian ingin mencetak kalian menjadi pengganti kalian? Menjadi presiden-presiden selanjutnya. Menjadi ketua-ketua lembaga selanjutnya. Menjadi aktivis-aktivis selanjutnya. Menjadi aktor-aktor dari cerita fiksi yang saya idam-idamkan.
Kedua, banyak kader dakwah kita, aktivis kita, yang memiliki kapasitas yang luar biasa, namun belum membina. Ada apa? Karena tidak memiliki kesempatan karena belum ada binaan? Saya kira bila ada kemauan yang kuat, hal ini bisa diatasi. Bahkan, saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar dalam menyikapi permasalahan ini.
Cukup dua permasalahan yang bisa jadi, sedikit demi sedikit, bila tidak diatasi segera, akan menyebarkan virus-virus berbahaya lain pada aktivitas amal jama’i. Dan bila masih juga belum teratasi, masih menjadi luka besar dalam aktivitas ke-amal-jama’i-an kita, maka, cerita-cerita fiksi akan abadi menjadi cerita fiksi. Aktor-aktor peradaban rabbani tidak akan pernah muncul.
Tapi, entah kenapa saya selalu merasa optimis. Bukankah Allah telah menjanjikan kemenangan, menjanjikan kejayaan bagi agama kita? Maka, sekarang tinggal pilihan. Menjadi bagian sejarah membentuk aktor-aktor peraih kejayaan tersebut atau tidak.
Membina adalah memperbaiki generasi. Membina adalah mendidik. Pendidikan itu penting. Yang lebih penting adalah yang mendidik, seorang guru. Saya telah menulis ini berkali-kali di setiap gagasan yang saya tulis. Sejarah kelam ketika Hiroshima dan Nagasaki dibumihanguskan oleh Sekutu pada Agustus 1945 menelan banyak jiwa dan harta. Namun, Hirohito saat itu dengan sigap melakukan tindakan. Apa yang ada di benaknya bisa jadi bukan nasib bangsanya di masa itu, tetapi di masa mendatang. Berapa jumlah guru yang masih hidup? Ia sadar, bahwa tanpa guru, bangsanya tidak akan pernah berkembang.
Maka, sejarah telah mencatat. Langit dan bumi telah menulis kejayaan Negeri Sakura itu sekarang.
Tantangan mendatang di ladang amal semakin banyak. Dampak bonus demografi, menjadi bagian dari MEA, dan era gelombang ketiga adalah tantangan yang memberikan kita hanya dua pilihan dalam membentuk generasi-generasi yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan Hadits. Membina atau membiarkan.
Sekali lagi, kita tidak hidup di negeri dongeng. Kita tidak hidup di negeri dongeng. Semua yang kita inginkan tidak bisa terjadi seketika. Maka, bergeraklah dan mulailah bermanfaat. Kata aktivis-aktivis kita, karena diam berarti berkhianat.
Rian Mantasa Salve P.
Koordinator DPPAK Biro AAI UNS 2015