Jadi, Siapa yang Cacat?

0
214

Entah kenapa, saat ini aku ingin sekali menampar diri sendiri. Setelah melihat betapa “masyaAllah”nya amalan-amalan yang bersliweran hari ini. Ada ia yang berbuka dengan anak yatim, berbagi materi sekaligus canda tawa. Ada ia yang mengisi harinya dengan ziyadah hafalan, penuh dari fajar hingga petang. Berbeda sekali denganku, hanya karena beberapa alasan saja, sirna niatku untuk mensyiarkan kebaikan.

Mungkin kisah ini dulu pernah aku ceritakan, aku minta maaf. Aku ingin menjadikan cerita ini sebagai pelecut semangat agar aku lebih lapar dalam memburu kebaikan. Serta lebih militan untuk tidak mudah mencari-cari alasan. Aku harap kisah ini bisa diambil pelajaran, entah untuk siapapun yang meluangkan waktu untuk membaca goresan demi goresan.

Kala itu libur Ramadan. Aku pulang ke kampung halaman, dimana suasana santai begitu terasa nyaman. Sampai aku bertemu suatu momen yang membuatku berefleksi habis-habisan. InsyaAllah tak ada niat ujub atau riya. Biasanya aku rutin shalat shubuh berjamaah di masjid dan berquality time dengan Al – quran selepasnya. Namun, setelah beberapa hari terlena oleh aroma nyamannya liburan, shalat shubuh di masjid terasa luar biasa berat. Kebiasaan berduaanku dengan “Sang Pemberi Syafaat” pun sering aku tinggalkan. Aku tahu itu lampu kuning tanda berkurangnya iman, tapi aku tak segera mengambil langkah pencegahan.

Saat itu, selepas shalat shubuh berjamaah, kemalasan ku memuncak. Setelah salam, tanpa berdoa, kutinggalkan masjid. Baru beberapa langkah aku melangkahkan kaki dari gerbang, aku melihat seorang kakek yang sedang menuju masjid. Untuk beberapa saat, aku memandangi beliau, jelas beliau belum pernah ku lihat selama ini, yang justru aneh, karena aku sudah sangat mengenal lingkunganku ini. Entah karena kutatap atau karena faktor lain, beliau terjatuh. Selemah – lemahnya imanku, jangan anggap aku akan mengabaikan hal itu.
Aku berlari menghampiri beliau dan membantu beliau bangkit.

“Terimakasih, Dek. Masjidnya di sebelah mana ya?” Tanya beliau sambil membenarkan tongkatnya.

“Lhah itu kan masjid, Pak” Jawabku dengan heran, karena jelas kami berada hanya beberapa petak dari rumah Allah. “Bisa antarkan saya masuk, Dek? Saya buta” … Selusin panah serasa menancap di hatiku, perasaan malu? Entah. Lebih tepatnya aku merasa sangat rendah di hadapan orang tua mulia ini. “…. Maaf pak, sebelah sini Pak. Rumahnya dimana ya pak?” Sembari kutuntun beliau menuju gerbang masjid.

“Dekat, nak.. Saya baru pindah kemarin malam. Sebenarnya dari jam setengah 4 saya sudah mencari masjid.. Tapi sulit mencari hanya dengan mendengar. Jadi sepertinya dari tadi saya hanya berputar – putar mengelilingi komplek ini, untung bertemu kamu”

“Kenapa gak shalat dirumah aja, Pak?”

“Karena saya merasa masih mampu. Cuma buta, kok. Saya merasa surga lebih dekat jika saya shalat di masjid. Dan saya merasa dosa saya akan lebih mudah diampuni jika saya shalat di masjid”

Jleb. Waktu serasa membeku. Tubuhku kaku. Dosa dosaku menyayat pikiranku. Air mataku menetes syahdu. Kusadari betapa payahnya diriku. “Cuma buta, kok” kata beliau. Hanya karena hal sepele, goyah keimananku untuk shalat di masjid. Sedangkan, ada kakek yang dapat mengalahkan buta untuk mendekatkan diri pada surga. Aku tersujud ditempat. Betapa sebuah orientasi akhirat, melebur relung sendu berlabel cacat.
Ingatlah kawan, bisa jadi penyandang cacat itu bukanlah mereka yang mengalami kelainan atau kehilangan organ tubuhnya. Tapi cap cacat itu adalah bagi mereka yang normal secara fisik, tapi enggan atau tidak bisa mengoptimalkan kenormalannya. Mereka tidak sadar, bahwa mereka sendiri lah yang membuat diri mereka cacat.
Jadi, siapa yang cacat? “..Karena sesungguhnya bukanlah soal mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati. Hati yang ada di dalam dada.” [QS Al Hajj: 46]

Masjid Nurul Huda, 3 Ramadan 1438 H
Narendra Rangga Reswara