Oleh: Ustadz Muhammad Ridwan

Dakwah dijalan Alloh adalah sebuah pekerjaan mulia yang memiliki Prinsip-Prinsip yang telah ditetapkan oleh Sang Maha pemberi titah (Alloh SWT) agar perjalanan dakwah yang kita lakukan tepat sasaran.,dan tidak terjebak pada kepentingan sesaat (Pragmatisme).oleh karenanya Arahan yang telah ditetapkan oleh Alloh SWT dapat dijadikan sebagai batu pijakan yang kokoh bagi para kader dakwah untuk mensukseskan langkah-langkah dakwahnya.

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Yaasin: 20-21).

Didalam surat Yasin ayat 20 dan 21 terdapat 9 point tersirat tentang prinsip-prinsip dakwah tersebut:

1. Wa Jaa-a’ (Dan Datanglah)

Sebuah keharusan bagi seorang Da’i untuk datang ( berdakwah), datang menuju tempat-tempat yang memiliki peluang untuk berdakwah,datang karena panggilan keimanan saat melihat kemunkaran merajalela, kapanpun dan dimanapun. Tekad yang selalu tertanam dalam jiwa mereka bahwa kedatangan (kehadiran ) mereka adalah untuk melakukan perubahan terhadap berbagai bentuk kebatilan (Kemunkaran).

Dalam Surat Al-Isra : 81 Alloh berfiman: “Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”.

Dan juga dalam Surat Saba: 49 Alloh berfiman: “Katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi “.

Jika seorang da’i datang/tinggal di suatu tempat maka sudah menjadi kewajiban moral baginya untuk menjadi Agent of Change (Agen Perubahan) ditempat tersebut.

2. Min Aqshol Madiinah (Dari ujung Kota)

Menggambarkan tentang jauhnya perjalanan yang harus ditempuh dalam melakukan dakwah, Sehingga para dai harus bertadhiyah (berkorban) waktu, tenaga, dan juga harta dalam perjalanan dakwahnya. meskipun perjalanan dakwah itu dilakukan hanya oleh segelintir orang saja dikarenakan perjalanan dakwah itu terasa amatlah jauh dan melelahkan, namun, walaupun jauh Seorang dai harus tetap melakukan dakwahnya tanpa mengandalkan orang lain.

Sebagaimana Firman Alloh dalam Surat At-Taubah: 42, “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah : ‘Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu’. Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.”
3. Rojulun (Seorang laki-laki)

Alloh tak menyebut status, nama, jabatan orang (da’i) yang dimaksud didalam ayat ini, meskipun menurut asbabunnuzul ayat, bahwa laki-laki yang dimaksud adalah habib An-Nazar. Hal ini memaknai bahwa dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja (seseorang) yang memiliki kesadaran (Al-Wa’yul Harokah) bahwa watawaa shoubilhaq, watawaa shoubisshobr (saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran) adalah kewajiban Insan beriman.Lihat Al-Asr: 2-3, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
4. Yas’a (Bergegas-Gegas)

Berdakwah dengan penuh kesungguhan (Jiddiyatud Dakwah), tidak berlambat-lambat, atau berleha-leha terhadap agenda dakwah yang telah ditetapkan, atau dengan teganya kita berpangku tangan ketika melihat yang lain sibuk dan bergegas. Alloh berfirman dalam Surat Al-Mu’minun: 61, “mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”.

Namun harus juga dibedakan antara bergegas/segera dengan terburu-buru (Isti’jal), Bergegas adalah gerak cepat, tepat, dan akurat (terencana) sedangkan Isti’jal adalah tergesa-gesa tanpa perencanaan, yang tentunya hasilnya akan berbeda.
5. Qoola (Ia Berkata)

Berkata dalam pengertian berupaya menyampaikan dakwah dengan lisan (kata-kata) disetiap ada kesempatan berbicara (pandai memanfaatkan momen). Sehingga setiap Da’i harus melatih kemampuannya di dalam menyampaikan dakwah melalui kata-kata, sebagaimana Nabi Musa yang menginginkan memiliki kemampuan dakwah melalui kata-kata (orator), hal ini dapat di lihat dari Do’a yang dipanjatkannya kepada Alloh Azzawajalla. Sebagaimana yang Alloh firmankan dalam surat Thaha: 27-28, “dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku,”

 

6. Yaa-Qoumi (hai kaumku)

Adalah audiens dakwah (mad’u) yang jumlahnya banyak dan bertebaran dimana –mana (yang belum tergarap), setiap orang yang jauh dari hidayah Alloh itulah sasaran dakwah kita untuk kita dekatkan mereka kepada Robbnya.

Didalam Alqur’an Surat Almu’min: 38, Alloh berfirman: “Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar”.

 

7. Ittabi’ul Mursaliin ( Ikutilah Utusan-Utusan Itu)

Muatan dakwah yang mengajak Manusia agar menjadi pengikut Alloh dan Rasul ,bukan pengikut kita, untuk menghilangkan Kultus Individu (Figuritas), Prinsip ini menjadi begitu penting untuk diperhatikan seiring dengan maraknya majlis-majlis yang melahirkan kultus individu.Al Quran Surat Al ‘Imran : 79:

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani , karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”.
8. Ittabi’uu Manlaa yas’alukum ajro (Ikutilah orang yang tidak meminta balasan kepadamu)

Terkait dengan Shihatul Ittijah (sehatnya orientasi), karena tujuan utama dakwah adalah bertransaksi dengan Alloh SWT untuk mencari keridoanNya, Terlindung dari azabnya dan masuk ke dalam syurga yang dijanjikanNya. Dengan demikian seorang dai harus meluruskan niat dakwahnya hanya untuk mencari keredhoan Alloh, bukan untuk tujuan popularitas ataupun tujuan materi dll. Alloh berfirman dalam Al Quran surat As Saff ayat 10-11:

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?”

“(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

9. Wahum Muhtaduun (Dan Mereka adalah Orang yang Mendapat Petunjuk)

Artinya para Da’i ilalloh adalah orang –orang yang didalam dakwahnya selalu berpegang kepada manhaj yang benar ( Al-Qur’an dan Sunnah ) , dan mereka konsisiten berpegang kepadanya, Hujjah-hujjah (Argumentasi) yang dipergunakan adalah Qolalloh wa Qoola Rasuul.

FirmanNya dalam Surat An-Najm ayat 4: “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.

Dalam Surat Yusuf Ayat 108: “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Jika 9 Prinsip-Prinsip dakwah diatas di amalkan oleh setiap mu’min, maka tiada tempat yang sepi dari orang-orang yang berdakwah, menyeru manusia kejalan TuhanNya, semoga kita dapat melaksanakannya.

Wallohu A’lam.